Minggu, 4 Desember 2016
   HOME   PRODUK PERUNDANGAN   PROFIL      KONTAK KAMI    BUKU TAMU    GALERI   LINK TERKAIT    SITEMAP   






TEKNIK MAHARAH AL-KALAM DENGAN LATIHAN PRAKOMUNIKATIF

Last update 10 Oct 2011

 

Oleh: Abdul Hamid, S.Pd.I

(Widyaiswara pada Balai Diklat Keagaman Banjarmasin)

 

 

Abstrak

Pembelajaran Maharah al-kalam memerlukan tahapan-tahapan untuk mencapai tahap kepandaian berkomunikasi yaitu dengan aktivitas-aktivitas laithan yang memadai dan mendukung. Aktivitas tersebut bukanlah perkara muda bagi pembelajaran bahasa sebab harus tercipta dahulu lingkungan bahasa yang mengarahkan ke arah sana. Dalam aktivitas yang dibahas pada makalah yaitu latihan prakomunikatif.

Latihan prakomunikatif memerlukan keterlibatan guru dalam latihan cukup banyak karena setiap unsur kemampuan yang diajarkan perlu diberikan contoh. Latihan yang dapat dilakukan dengan teknik: al-hifzh ‘ala al-hiwar, al-hiwar bil-shuwar, al-hiwar al-muwajjah, al-tamsil al-suluki, tathbiq al-namadzij, al-tazyid, al-takhlil, al-tabdil, al-tadmij, al-tartib, dan takmil al-jumlah.

 

Pengertian Maharah al-Kalam

Maharah al-Kalam adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran berupa ide, pendapat, keinginan, atau perasaan kepada lawan bicara. Dalam makna yang lebih luas, berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia untuk menyampaikan pikiran dalam rangka memenuhi kebutuhannya.[1]

Pada hakekatnya maharah al-kalam merupakan kemahiran menggunakan bahasa yang paling rumit, yang dimaksud dengan kemahiran berbicara adalah kemahiran mengutarakan buah pikiran dan perasaan dengan kata-kata dan kalimat yang benar, ditinjau dari sistem gramatikal, tata bunyi, di samping aspek maharah berbahasa lainnya yaitu menyimak, membaca, dan menulis.

Kemampuan berbicara (maharah al-kalam) didasari oleh; kemampuan mendengarkan (reseptif), kemampuan mengucapan (produktif), dan pengetahuan (relative) kosa-kata dan pola kalimat yang memungkinkan siswa dapat mengkomunikasikan maksud/fikirannya.[2]

Secara umum maharah al-kalam bertujuan agar mampu berkomunikasi lisan secara baiok dan wajar dengan bahasa yang mereka pelajari. Secara baik dan wajar mengandung arti menyampaikan pesan kepada orang lain dalam cara yang secara sosial dapat diterima.

Sasaran teknik ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa Arab pada situasi yang alami dengan sikap spontanitas kreatif, disamping penguasaan tata bahasa. Lebih fokusnya  adalah menyampaikan makna atau maksud yang tepat sesuai dengan tuntunan dan fungsi komunikasi pada waktu tertentu.

 

AKTIVITAS DAN TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN MAHARAH AL-KALAM

Kalam diidentikkan dengan penggunaan bahasa secara lisan. Penggunaan bahasa secara lisan dapat ditentukan dari berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara secara langsung adalah : 1) pelafalan, 2) pilihan kata,  3) isi pembicaraan,   4) intonasi,  5) struktur kata dan kalimat, 6) sistematika pembicaraan, 7) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan, dan 8) penampilan yaitu seperti gerak-gerik atau penguasaan diri.

Aktivitas latihan prakomunikatif adalah latihan-latihan yang memberikan maksud agar peserta didik dapat mempelajari kemampuan-kemampuan dasar dalam kegiatan maharah al-kalam seperti latihan penerapan pola dialog, kosa kata, kaidah, mimik muka, dan sebagainya. Pada aktivitas ini keterlibatan guru dalam latihan cukup banyak berperan aktif dalam memberikan latihan yang di setiap unsur memerlukan banyak contoh.

Teknik yang dapat diterapkan dalam aktivitas latihan prakomunikatif secara bertahap adalah sebagai berikut:

a.    Al-hifz ala al-hiwar (hapalan dialog)

Dalam teknik ini latihan meniru dan menghapalkan dialog-dialog mengenai berbagai macam situasi dan kesempatan. Melalui latihan ini diharapkan pelajar dapat mencapai kemahiran yang baik dalam percakapan yang dilakukan secara wajar dan tidak dibuat-buat. Kendatipun pada awalnya latihan ini dibuat secara pola berdasarkan hapalan, namun akan mencapai kemampuan berkomunikasi secara wajar jika hal ini dilakukan secara terus-menerus.

b.    Al-hiwar bil al-shuwar (dialog melalui gambar)

Melalui teknik ini diharapkan dapat memahami fakta melalui gamar yang diungkapkan secara lisan sesuai denga tingkatan siswa, guru dalam hal ini membawa gambar-gambar dan menunjukkkan satu persatu kepada siswa dengan menggunakan metode tanya jawab sehingga terciptalah kondisi yang sesuai diinginkan maksud dari media gambar tersebut.

هذ تلميذ

من هذا ؟

 

هذا كثاب

ما هذا ؟

هذه استاذة

من هذه ؟

 

هذه كراسة

ما هذه ؟

ذلك فلاح

من ذلك ؟

 

ذلك باب

ما تلك ؟

تلك طبيبة

من تلك ؟

 

تلك مجلة

ما تلك ؟

اسمي عائشة

ما اسمكِ

 

اسمي يوسف

ما اسمكً

 

c.     Al-hiwar al-muwajjah (dialog terpimpin)

Pada teknik ini diupayakan siswa dapat melengkapi pembicaraan yang sesuai dengan situasi tertentu dengan keadaan yang dilatihkan. Pada prakteknya guru dapat memberikan contoh tanya jawab dalam bahasa Arab, misalnya tentang shalat tarawih. Dalam tanya jawab ini guru memberikan kalimat-kalimat untuk dapat direspon oleh siswa, misalnya:

انا اريد أن أذهب الى مسج الكرامة بمرتافورا معك

اريد أن أدهب الى مسجد الكرامة بمرتافورا هدالليل لصلات التراويح, و أنت ؟

لا, لا أدهب الى هاك, بل أذهب الى المصلى قريب من المدرسة

 

d.    Al-tamtsil al-suluki (dramatisasi tindakan)

Pada teknik ini diharapkan siswa dapat mengungkapkan suatu aktivitas secara lisan. Guru melakukan upaya tindakan tertentu seperti tersenyum, tertawa duduk, dan sebagainya, kemudian siswa dapat memberikan jawaban sesuai dengan tindakan guru tersebut.

أنت تتبسم

ماذ أعمل ؟

أنت تضحك

أنت تجلس على الكرسي

 

e.    Tathbiq al-namadzij

Pada teknik ini diharapkan siswa dapat mengungkapkan kalimat lengkap melalui pola-pola kalimat yang belum disempurnakan. Melalui praktek pola dengan menyempurnakan kalimat tertentu yang didahului soal-soal yang tidak lengkap, acak, atau penambahan yang sudah lengkap. Dalam prakteknya dapat melalui pola kalimat antara lain penambahan, penyisipan, substitusi, integrasi, menyusun, melengkapi dan lain-lain.

1.    Al-tazyid (penambahan)

قرأ أحمد المجلة صباحا

قرأ أحمد المجلة

قرأ أحمد المجلة مساء

قرأ أحمد المجلة ليلا

 

2.    Al-takhlil (penyisipan)

ذهب التلميذ اليوم الى المكتبة

ذهب التلميذ الى المكتبة

ذهب التلميذ بعد الظهر الى المكتبة

ذهب التلميذ قبل العصر المكتبة

 

3.    Al-tabdil (substitusi)

الدكان كبير

المسجد كبير

البيت كبير

الغرفة واسعة

المكتبة واسعة

الحديقة واسعة

 

4.    Al-tadmij (integrasi)

عرفت أن التعلم مفيد

عرفت – التعلم مفيد

 

ذهب علي ا السوق

 

5.    Al-tartib (menyusun)

Kata tersusun

Kata Acak

انا اسافر الى مكة و المدينة مع اسرتي للعمرة

مكة – الى - للعمرة – اسافر – اسرتي – المدينة – مع – و- انا

ذهب محمد الى المكتبة التجارية مع أصحابه

الى – التجارية – ذهب – أصحابه – المكتبة – محمد - مع

 

6.    Takmil al-jumlah (melengkapi kalimat)

Pelengkap

Kalimat tak lengkap

الموز

عثمان يحب البرتقال ولكن يحي يحب ....

رخيص

هذا الكتاب غلي, وهذا الكراسة ....

 

Pola aktiftas pembelajaran maharah al-kalam pada tingkatan prakomunikatif menuntut pengajar/guru lebih dapat menyediakan materi yang lebih bervariatif sehingga akan membawa siswa lebih merasa belajar. Dengan teknik-teknik yang pada tahapan prakomunikatif diharapkan siswa dapat memahami pembelajaran dasar maharah al-kalam, sehingga dapat dilanjutkan dengan pembelajaran dengan teknik komunikatif.

 

Kesimpulan dan Saran

Keterampilan berbicara mutlak sangat diperlukan. Begitu pula keterampilan menyimak dan berbicara saling berkaitan. Dalam menyimak seorang mendapat informasi, sedangkan dalam berbicara seseorang menyampaikan pikiran, perasaan melalui alat ucap.

Pola aktiftas pembelajaran maharah al-kalam pada tingkatan prakomunikatif menuntut pengajar/guru lebih dapat menyediakan materi yang lebih bervariatif sehingga akan membawa siswa lebih merasa belajar. Dengan teknik-teknik yang pada tahapan prakomunikatif diharapkan siswa dapat memahami pembelajaran dasar maharah al-kalam, sehingga dapat dilanjutkan dengan pembelajaran dengan teknik komunikatif.

Teknik pembelajaran berbicara atau maharah al-kalam perlu dibina dan dikembangkan serta banyak latihan sehingga menumbuhkan minat siswa dalam berbicara (kalam). Guru seyogyanya hendaklah membuat setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan setidaknya memberikan kegairahan belajar bagi siswa.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2011

Heri Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Angkasa, 1994

Imam Makruf, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Aktif, Need’s Press, Semarang, 2009

Abd al-Rahman bin Ibrahim al-Fauzan, dkk, al-Arabiyyah Baina Yadaik, (Riyadh; Mu’assasat al Waqaf al-Islami, 2003)

Sri Utari Subyakto-Nababan, Metodologi Pengajaran Bahasa, (Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 1993)

Loise Ma’luf,  Al Munjid fil Lughoh wal A’laam, Beirut: Dar el-Mashreq, 2005) Cet. 41.



[1] Tarigan, Heri Guntur, Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 1994), h.15

[2] Makruf, Imam, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Aktif, Need’s Press, Semarang, 2009, h. 22

©2010 Kementerian Agama Republik Indonesia Pusat Informasi Keagamaan dan Kehumasan
Halaman ini diproses dalam waktu 0.006555 detik